Rosan Roeslani
Oleh Dian Anita )*
Hilirisasi industri semakin memperkuat perannya sebagai penggerak investasi dan pembukaan pusat pertumbuhan ekonomi baru dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, serta pengembangan industri pengolahan mineral di luar Pulau Jawa menunjukkan bahwa strategi peningkatan nilai tambah sumber daya alam mulai memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa realisasi investasi Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berhasil menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Capaian itu disampaikan Rosan dalam acara groundbreaking dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Menurut Rosan, peningkatan investasi tersebut tidak hanya terlihat dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari semakin kuatnya kontribusi industri hilirisasi. Dalam dua tahun terakhir, porsi investasi hilirisasi yang sebelumnya berada di kisaran 25 persen telah meningkat menjadi sekitar 30 persen dari keseluruhan investasi nasional. Perubahan ini memperlihatkan bahwa kebijakan pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah semakin diperhitungkan oleh pelaku usaha dan investor.
Salah satu perkembangan penting terlihat dari penyebaran investasi ke luar Pulau Jawa. Rosan menyampaikan bahwa lebih dari 75 persen realisasi investasi berada di luar Jawa. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi upaya memperluas pemerataan ekonomi, mengingat aktivitas industri dan investasi selama bertahun-tahun cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu. Apabila didukung pembangunan infrastruktur, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan keterlibatan pelaku usaha lokal, hilirisasi berpeluang menciptakan pusat ekonomi baru di berbagai daerah.
Maluku Utara menjadi contoh perubahan tersebut. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai penghasil mineral kini berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan industri nasional. Produk ekspornya juga semakin beragam, mulai dari feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate hingga cobalt. Pergeseran dari ekspor bahan mentah menuju produk olahan memperlihatkan peluang Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari kekayaan alamnya.
Pertumbuhan investasi, penyerapan lebih dari 1,4 juta tenaga kerja pada semester pertama 2026, peningkatan porsi investasi hilirisasi, serta pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik menjadi sejumlah capaian pemerintah selama setahun terakhir. Perkembangan tersebut menunjukkan arah kebijakan yang berupaya menghubungkan sumber daya alam dengan industri pengolahan dan kebutuhan teknologi masa depan. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang juga harus diukur dari kualitas pekerjaan, peningkatan kemampuan industri nasional, pemerataan manfaat ekonomi, dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, turut menekankan pentingnya menghubungkan hilirisasi mineral dengan pengembangan industri kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Nezar menyatakan bahwa pengolahan mineral Indonesia perlu diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur digital yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Menurutnya, ketika dunia membutuhkan bahan baku untuk transisi energi dan digital, Indonesia harus memastikan rantai nilai yang terbentuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi semua pihak.
Nezar menjelaskan bahwa nikel dan tembaga tidak semata-mata bernilai sebagai komoditas pertambangan. Kedua mineral tersebut memiliki peran penting dalam pembangunan ekosistem AI, mulai dari baterai dan peralatan kelistrikan hingga jaringan transmisi serta sistem pendukung pusat data. Dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi tambang nikel dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral global. Akan tetapi, keunggulan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial agar manfaat ekonominya tidak menimbulkan beban jangka panjang.
Karena itu, Nezar mengingatkan bahwa hilirisasi harus melampaui aktivitas pengolahan mineral di dekat lokasi tambang. Proses tersebut perlu disertai peningkatan kinerja lingkungan, ketertelusuran bahan baku, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, penggunaan energi rendah karbon, serta pengelolaan limbah dan air yang lebih baik. Kepentingan masyarakat sekitar juga harus menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pengembangan industri.
Pengembangan AI sendiri membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan mineral. Pembangunan pusat data memerlukan pasokan listrik yang andal, jaringan serat optik, lahan, sistem pendingin, cip, tenaga ahli, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Oleh sebab itu, agenda digital harus berjalan seiring dengan kebijakan energi, industri, pembiayaan, dan perlindungan lingkungan. Indonesia memang memiliki peluang menjadi pusat AI regional berkat letak geografis, pertumbuhan ekonomi digital, dan ketersediaan talenta, tetapi peluang tersebut harus ditopang kesiapan infrastruktur dan kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Hilirisasi dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berdaya saing. Dengan tata kelola yang baik, perlindungan lingkungan, serta keberpihakan pada pengembangan tenaga kerja lokal, hilirisasi dapat menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
)* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

