(oleh: dr. Gede Bagus Mahendra Wirajaya)
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau biasa disebut lupus adalah suatu penyakit autoimun. Autoimun memiliki arti dimana sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada SLE, sistem imun terutama menyerang inti sel. Penyebab SLE belum sepenuhnya diketahui, namun berdasarkan penelitian diketahui bahwa kejadian SLE berhubungan dengan berbagai faktor seperti: faktor genetik, hormonal, imunologik dan lingkungan.

SLE ditandai dengan gejala klinis yang tak spesifik, antara lain rasa lemah, mudah lelah, lesu berkepanjangan, panas, demam, mual, nafsu makan menurun, dan berat badan turun. Gejala awal yang tidak khas ini mirip dengan beberapa penyakit yang lain. Berdasarkan American College of Rheumatology (ACR) diagnosis SLE harus memenuhi 4 dari 11 kriteria yang ditetapkan sebagai berikut:
- Ruam kemerahan pada kedua pipi melalui hidung sehingga seperti ada bentukan kupu-kupu, biasa disebut Malar Rash/Butterfly Rash
- Bercak kemerahan berbentuk bulat pada bagian kulit yang ditandai adanya jaringan parut yang lebih tinggi dari permukaan kulit sekitarnya
- Fotosensitif, yaitu timbulnya ruam pada kulit oleh karena sengatan sinar matahari
- Luka di mulut dan lidah seperti sariawan (oral ulcers)
- Nyeri pada sendi-sendi, sendi berwarna kemerahan dan bengkak
- Gejala pada paru-paru dan jantung berupa selaput pembungkusnya terisi cairan
- Gangguan pada ginjal yaitu terdapatnya protein di dalam urine
- Gangguan pada otak/sistem saraf mulai dari depresi, kejang, stroke, dan lain-lain
- Kelainan pada sistem darah di mana jumlah sel darah putih dan trombosit berkurang dan biasanya terjadi juga anemia
- Tes ANA (antinuclear antibody) positif
- Gangguan sistem kekebalan tubuh
Adapun terapi untuk SLE meliputi terapi farmakologi dan non-farmakologi. Terapi farmakologi meliputi:
- NSAID untuk membantu mengurangi peradangan dan nyeri pada otot, sendi, dan jaringan lainnya. Contoh NSAID adalah aspirin, ibuprofen, naproxen, dan sulindac.
- Kortikosteroid juga dapat diberikan, dan diketahui lebih baik dari NSAID dalam mengatasi peradangan dan mengembalikan fungsi ketika SLE kambuh. Kortikosteroid lebih berguna terutama bila organ dalam juga terkena. Kortikosteroid dapat diberikan peroral, injeksi langsung ke persendian atau jaringan lainnya, atau secara intravena. Sayangnya, kortokosteroid memiliki efek samping yang serius bila diberikan dalam dosis tinggi selama periode yang lama, dan harus dimonitor aktifitas dari penyakitnya untuk menurunkan dosisnya bila memungkinkan.
- Hydroxychloroquine adalah obat anti malaria yang ditemukan efektif untuk pasien SLE dengan kelemahan, penyakit kulit dan sendi. Efek samping dari hydroxychloroquine adalah diare, tidak enak perut, dan perubahan pigmen mata.
- Pengobatan immunosupresan digunakan pada pasien dengan manifestasi SLE berat dan kerusakan organ dalam. Contohnya adalah methotrexate, azathioprine, cyclophosphamide, chlorambucil dan cyclosporine.
Terapi non-farmakologi pada pasien SLE meliputi edukasi agar sedapatnya menghindari sinar matahari atau menutupinya dengan pakaian untuk mencegah masalah yang disebabkan fotosensitivitas. Penurunan berat badan juga disarankan pada pasien yang obesitas dan kelebihan berat badan untuk mengurangi beberapa efek dari penyakit ini, khususnya ketika ada masalah dengan persendian.

