INFOBALINEWS, BADUNG – Sampah menjadi masalah utama dalam mempertahankan posisi Bali dalam industri Pariwisata, khususnya Badung. Karena ketika masyarakat semakin makmur, maka semakin banyak dihasilkan sampah. Di sisi lain, semakin sedikit tersedia tempat sampah konvensional karena lokasinya telah banyak berubah menjadi fasilitas pariwisata.
Karena itu Pemerintah Kabupaten Badung terus meng-upgrade ketersediaan alat untuk menanggulangi dan mencegah terjadinya penumpukan sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung, I Wayan Puja mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten Badung mendatangkan 6 buah mesin pengolahan sampah berbasis incinerator.
Dan diharapkan bila sudah beroperasi pengolahan sampah di Pusat Daur Ulang (PDU) / TPST Mengwitani ini yang berdasarkan konsep yang sebenarnya. Tempat ini untuk menyelesaikan residu dari sampah-sampah yang sudah diolah di tingkat rumah tangga, TPS3R, dan juga diolah dengan teknologi RDF.
“Kita mau tidak ada tumpukan sampah, jadi sampah itu berubah bentuk menjadi abu, nantinya abu tersebut bisa dibentuk menjadi batako dan yang lainnya,” ungkap Puja sambil menambahkan di lokasi yang sama, tepat di sebelah selatan Terminal Mengwi ini, sudah dua incinerator generasi sebelumya, sudah beroperasi.
Wayan Puja mengatakan sumber dana yang digunakan untuk menciptakan tempat olah sampah ini baik dari mesin dan juga bangunan menggunakan APBD sebesar Rp 26 Miliar. Namun begitu, Puja tetap meminta masyarakat tetap harus mengurusi sampahnya, kalau tidak begitu pemeintah tidak mampu mengatasi masalah sampah.
“Kita sangat mengharapkan masyarakat itu peduli terhadap sampah yang mereka hasilkan, caranya dengan aktivitas yang rutin dengan mengelola sampah ketempat yang terpilah, setelahnya lembaga lah yang memiliki tugas,” tuturnya.
Kendalikan Emisi
Sementara itu anggota Tim Ahli Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Lingkungan Hidup Kehutanan, Dr. Ir. Pramono Iriawan, ST.,M Ling, IPU mengatakan mesin pengolahan limbah sampah berbasis incinerator ini ditunjukkan untuk mengendalikan volume limbah yang ada di Bali khususnya di Kabupaten Badung.
“Incinerator ini tujuannya adalah untuk mengelola limbah sampah domestik yang telah dilakukan pemilahan. Sehingga nanti tidak ada tumpukan sampah yang ada di TPA. Tujuannya juga untuk mengendalikan pencemaran,” ujarnya. Lebih lanjut dikatakan mesin pengolahan limbah sampah ini juga untuk mengendalikan emisi.
“Pengolahan sampah disini adalah sistem terintergrasi dari pemilahan sampai ke proses pemusnahan yang tujuannya untuk pengolahan limbah sampah di Kabupaten Badung,” ungkap Pramono.
Pihaknya optimis dengan sistem pengolahan sampah ini dapat mengatasi permasalahan sampah sekarang ini, namun ia menekankan penanganan sampah tersebut membutuhkan bantuan semua pihak.

Ciptakan Incinerator untuk Atasi Sampah
Founder mesin pengolahan sampah, Ir. Prabowo Suprapto mengatakan terciptanya mesin ini untuk menjawab permasalahan sampah di Indonesia yang tidak pernah ada solusi yang pasti. Ia menuturkan bahwa mesin ini juga ramah lingkungan.
“Jadi mesin ini diciptakan untuk melakukan mengendalikan masalah sampah secara kesinambungan tidak lagi dengan TPA penuh, dan mencari TPA lagi,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa yang menjadi masalah utama sekarang ini yakni dalam hal memilah sampah. Karena sekarang ini banyak sampah yang campur aduk. Sementara pilihan teknologi untuk pengelolaan sampah campur aduk itu masih sangat terbatas.
“Seharusnya sampah yang sudah terpilah itu, organik masuk ke pabrik kompos untuk menjadi pupuk kompos. Kemudian sampah hasil pilahan daur ulang sebagai bahan baku daur ulang, sisanya dimusnahkan oleh mesin incinerator,” ungkap Prabowo.
Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama Dodika Incinerator, Karina Prabowo Sanger menjelaskan Dodika incinerator ini diciptakan manual untuk menyerap tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja baru, dan digaji sesuai dengan UMR setempat.
Karina menuturkan bahwa harga 1 unit dari mesin incinerator ini sebesar Rp 4,5 M diluar ppn.
“Kita ada 3 type, ada type 1,5, type 2,5, type 3,5 kubik perjam. Jadi kurang lebih satu hari itu memakan sampah basah sebanyak 15 ton perhari. Tetapi kalau sampah kering sampai 20 ton,” jelasnya.
INFOBALINEWS.ID

