Hasil karya salah satu kelompok di sesi kedua yang telah digabungkan menjadi satu buah modul.
INFOBALINEWS, DENPASAR – Popo Danes Architect dan Danes Art Veranda kembali menggelar Architecture for Kids: Workshop Arsitektur Anak-anak untuk yang ke-20 kalinya,
Workshop yang diikuti oleh anak-anak dari berbagai kelompok usia antara 5-12 tahun ini merupakan agenda tahunan yang diadakan oleh Popo Danes Architect dan Danes Art Veranda. Agenda ini diadakan sebagai upaya untuk mendekatkan dunia arsitektur sejak dini khususnya pada usia anak-anak dan dilaksanakan pada saat liburan sekolah. Total peserta ntuk tahun ini sebanyak 150 peserta tanpa dipungut biaya apapun.

Menurut Popo Danes selaku arsitek sekaligus penggagas kegiatan tahunan ini, masa anak-anak merupakan masa yang paling berpotensi untuk mengasah dan mengeksplorasi bakat serta kreativitas. Mereka mempunyai daya imajinasi yang kuat dalam berkreasi, khususnya dalam hal menggambar dan membuat kerajinan tangan, hal ini menjadi pemikiran Popo Danes untuk dapat memperkenalkan gambar-gambar arsitektur kepada anak-anak.
Dalam kegiatan ini, diharapkan anak-anak akan dapat mengetahui seperti apa dan bagaimana dunia arsitektur sejak dini, melalui rangkaian acara seperti menggambar dan membuat maket model. Disini peserta diberi kebebasan dalam berkreativitas, berkarya, dan berkreasi. Selanjutnya peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil karya mereka di depan peserta lainnya, sehingga peserta pun akan memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan tentang kreasi mereka.
Secara keseluruhan, Popo berpendapat bahwa kegiatan ini juga sebagai upaya untuk mengenalkan profesi seorang arsitek sejak dini, sekaligus memberikan mereka kesempatan untuk menggali minat, bakat, serta merangsang kreativitas dan gambaran tentang cita-cita sejak usia dini.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, workshop ini dikemas secara playful, menyenangkan, dan edukatif. Pada tahun ini, Tema tahun ini mendorong playful architecture, anak-anak dapat bermain-main dengan imajinasi dan persepsi mereka terhadap ruang dalam suasana yang menyenangkan dan lingkungan yang edukatif. Workshop akan dibagi dalam dua sesi berbeda.
Pada sesi pertama, anak-anak akan diperkenalkan dengan denah arsitektur dua dimensi, yang nantinya ide tersebut fituangkan ke dalam kertas. Pada sesi kedua, anak-anak akan dikenalkan dengan ruang arsitektur dalam bentuk ruang tiga dimensi melalui susunan kotak seperti bermain Lego. Mereka akan dipandu oleh tim Popo Danes Architect dan tim Melati Danes Interior. Setiap sesi akan diakhiri dengan presentasi hasil karya dari peserta.
Workshop dimulai dengan senam pagi untuk ice-breaking di antara para peserta. Kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama yaitu eksplorasi gambar arsitektur dua dimensi. Anak-anak tersebut diminta untuk menuangkan imajinasinya terhadap sebuah rumah tinggal. Sehingga, anak-anak tersebut dapat dikenalkan dengan bagaimana mengisi sebuah denah arsitektur menggunakan “kacamata” seorang arsitek namun tetap dengan kreasinya sendiri. Kelompok 4 yang dipandu oleh Weda, Aan dan Dipta antusias mengisi denah kamar dengan kasur, televisi, lemari, hingga akuarium. Anak-anak tersebut berusaha membayangkan objek-objek tersebut jika terlihat dari tampak atas.
Kegiatan ini berlokasi di studio kantor arsitek Popo Danes, sehingga anak dapat diajak untuk belajar dan bermain langsung di dalam kantor arsitek dan dapat melihat bagaimana sebuah kantor arsitek itu.

Sesi kedua anak-anak tersebut dibuat bekerja secara berkelompok, setelah pada sesi pertama telah bekerja secara individu. Anak-anak ini diminta untuk menggambar di atas kardus yang sudah disediakan oleh panitia. Seperti pada Kelompok 1 yang dipandu oleh Dini, anak-anak tersebut asyik menulis nama, menggambar bendera, hingga tokoh-tokoh terkenal. Mereka dapat bebas menggambar apapun menggunakan krayon, spidol dan pensil warna. Setelah selesai menggambar di atas kardus, mereka secara kerja sama menyatukan kardus-kardus tersebut. Dari satu kelompok, tercipta satu modul yang nantinya akan dirangkai menjadi satu instalasi. Mereka asyik bersama-sama memikul modul-modul tersebut dari ruangan-ruangan kecil ke halaman utama agar dapat dirangkai.
Dengan bantuan para mentor, modul tersebut dirangkai menjadi satu instalasi. Walaupun tidak diminta, anak-anak tersebut antusias membantu para mentor untuk menyusun instalasi yang tingginya dua kali dari tinggi mereka. Setelah instalasi tersebut dapat berdiri, instalasi ini diperuntukkan untuk sesi selanjutnya yaitu sesi bermain. Anak-anak tersebut mengular untuk masuk ke dalam instalasi, naik dan turun untuk melewati ‘wahana’ yang mereka buat oleh anak-anak ini.
Usai acara, peserta diajak untuk berfoto bersama dengan instalasi yang sudah mereka buat dan tiap-tiap anak mendapatkan sertifikat tanda keikutsertaan dalam Architecture For Kids. Masing-masing peserta juga diberi t-shirt sebagai kenang– kenangan dari acara ini. Beberapa anak-anak juga meminta untuk membawa pulang hasil karya mereka untuk kenang-kenangan.
Mengisi liburan dengan pengetahuan mungkin menjadi alternatif pengembangan kepribadian anak-anak atas minatnya, dan bidang arsitektur yang masih jarang dikenal khususnya bagi anak-anak menjadi bagian yang menarik dari apa yang telah dilakukan oleh Popo Danes Architect, jadi untuk liburan akan datang untuk yang ketinggalan dan belum sempat mengikuti workshop arsitektur, bisa mengikutinya di Architecture For Kids 2025.

