Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Provinsi Bali I Putu Eka Mahardhika S.IP.,M.AP,
INFOBALINEWS, UBUD – Festival Sastra Saraswati Sewana 2024 yang digelar Puri Kauhan Ubud merupakan sebuah langkah nyata yang tepat dan strategis ditengah hiruk pikuknya kondisi social-politik dipulau dewata.
Menurut Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Provinsi Bali I Putu Eka Mahardhika S.IP.,M.AP, festival ini adalah wahana yang tepat untuk kembali mengasah setiap bilah pemikiran yang dibawa oleh para pemuda Bali dan deretan intelektual serta cendikiawan yang ada di Bali untuk mempertajam daya bedah atas setiap studi kasus yang ada saat ini dilapangan yang kian hari makin kompleks dan penuh dengan kekusutan intrik di tengah masyarakat yang mulai apatis karena banyaknya bias informasi akibat kepentingan oknum atau kelompok tertentu.
Menurut Eka Mahardhika yang juga Dosen Muda di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Warmadewa Denpasar, kehadiran Sastra Saraswati Sewana yang mengambil tema “Niti Raja Sasana” menjadi pengingat bagi semua masyarakat khususnya di Bali bahwa kita memiliki panduan kehidupan di segala lini pengetahuan yang ditahun ini melalui Sastra saraswati sewana 2024 khusus membedah tentang konsep-konsep kepemimpinan yang dilahirkan oleh para DNA WED BALI !
Simak saja apa yang dihadirkan Yayasan Puri Kauhan Ubud yang dinahkodai A.A Ari Dwipayana yang juga Koordinator Staffsus Kepresidenan dengan menaruh perhatian pada hasil karya sastra para WED BALI seperti Ida Pedanda Ngurah dari Gria Gede Belayu Tabanan, Ida Pedanda Made Sidemen dari Gria Taman Sanur, Tjokorde Gde Ngoerah dari Puri Saren Kauh, Puri Agung Ubud, I Gusti Ngurah Made Agung dari Puri Agung Denpasar dan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra dari Gria Kedaton Denpasar.
Dari semua deretan nama tersebut telah lahir karya-karya sastra yang mempu menjadi panduan pengingat bagi krama Bali untuk merefleksikan kembali dirinya pada cerminan sastra hasil konstruksi proses sekala-niskala para WED BALI tersebut.
Selain itu ditengah momentum akan pemilihan calon-calon punggawa Bali baik di level Provinsi melalui pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur dan juga di Kabupaten/Kota melalui pemilihan Bupati dan Wakil Bupatinya sudah selayaknya para beliau yang akan bertarung tidak lupa akan WED mereka sebagai krama Bali yang harus meletakkan pondasi sastra bukan hanya sebagai pemanis dan pelengkap dari rumusan kebijakannya nanti namun wajib dijadikan “WED” panduan dalam setiap poses penyusunan kebijakan yang ada sehingga arah konstruksi pembangunan Bali dan segala isinya sesuai dengan DNA yang lahir di Pulau dewata ini.
Lebih lanjut Ketua Peradah Bali Eka Mahardhika berharap para calon punggawa Bali yang entah siapapun nantinya agar tidak lupa atau terlebih pura-pura lupa bahkan melupakan “WED SESANA” mereka sebagai putra dari Rahim pertiwi Bali yang memikul tanggungjawab besar untuk menjaga Bali dengan bijaksana, sehingga setiap langkah yang dilakukan sejalan dengan apa yang diperjuangkan dalam membangun Bali masa depan yang harus bermuara pada “NGARDI PARAHITENG SARAD” membangun kesejahteraan bersama lahir dan batin.

