Pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohamad (tengah) bersama pelukis Handy Saputra (kanan) dan Bundhowi (pakai topi) saat pembukaan Pameran Tunggal The Dragonfly’s Ripples di Sika Gallery, Ubud, Selasa (25 Februari 2025).
Pameran Tunggal The Dragonfly’s Rippless di Sika Gallery
INFOBALINEWS, UBUD – Pendiri majalah Tempo Goenawan Mohamad memuji perkembangan karya seni rupa pengusaha jasa cargo dan property Handy Saputra yang berani menyeberang dari gayanya saat awal hingga jauh bila terlihat dari karyanya terkini. Hal ini disampaikan jurnalis senior dengan panggilan populer GM saat membukan pameran tunggal Handy Saputra, bertajuk The Dragonfly’s Ripples di Sika Gallery, Ubud, Selasa (25 Februari 2025).
GM yang mengaku baru mengenal Handy sekitar 10 tahun dan kemudian bersahabat dalam dunia kreatif, mengakui bahwa pada Handy selaku seniman ada paradok, terlihat dari keluarnya dia dari koridor warna monoton yang penuh humor, menuju perkembangan terkini, yang selain humor juga cukup banyak menampilkan protes. Kemudian dalam karyanya terkini sudah semakin penuh warna dan penggunaan berbagai media.
Handy, kata GM. Dalam banyak diskusi dengan dirinya, banyak menyiratkan bahwa dia melukis tanpa pretensi apa-apa. “Demikian juga saya sebagai seniman seni rupa,” ujar GM yang kini juga melukis dan beberapa kali berpameran.

Ditambahkan GM bagi dirinya selaku seniman yang penting karyanya, bukan siapa yang membuat, bukan apa profesi yang membuat maupun apa pahamnya. “Seperti kita ketemu karya di rimba, kita kan tidak bertanya-tanya siapa orang yang membuat karya tersebut.”
Bagi saya prinsip Handy seperti Picasso yang kemana-mana membawa pistol tanpa peluru, yang katanya fungsi pistol itu untuk menembak orang yang bertanya, apa maksud dari karya yang dibuatnya.
Diakui GM, dirinya seperti juga banyak seniman lainnya, sebenarnya tidak tahu betul apa yang dikerjakan. “Hanya para perancang atau asitek, ataupun perancang perang yang tahu apa yang mau dilakukan dan apa maksudnya,” ujar penulis yang terkenal dengan esainya di majalah Tempo selama puluhan tahun dalam tajuk Catatan Pinggir. “Jadi seniman mengikuti sesuatu yang kedatangannya, dia sendiri tidak tahu. Kelihatannya misterius tapi itu yang saya alami dan juga pastinya Handy.” Dan hal tersebut telah memperkaya proses kreatif dan khasanah dunia seni rupa.
Sementara itu Muhammad Bundhowi dalam prakata menyampaikan kegembiraanya melihat karya Handi Saputra terkini, setelah beberapa tahun berubah – berubah, “Karyanya kali ini menjadi lebih bagus.”
Bundhowi seorang fotografer mengamati lukisan Handy, mengingatkan pada lukisan kontemporer pada tahun 70-an yang berkembang di Eropa. “Dan terlihat Handy memiliki cukup keberanian untuk membuka diri. Saya mengapresiasi yang begitu dalam. Nah, itu perjalanannya. Untuk pameran yang kedua ini khususnya pada lukisan berjudul The Dragonfly’s Ripples, saya melihat sebuah kebaruan dari kesan-kesan lukisan yang sebelumnya monoton dan agak suram.”
Bundhowi menilai, seniman Handy terus membuat ripples atau riak-riak air lewat perkembanganya karya seni rupanya, “Yang suatu saat mungkin akan membuat gelombang baru.”

Pameran Tunggal Kedua
Pada kesempatan pembukaan pamerah, Handy mengatakan bahwa ini pamerah tunggal keduanya dengan judul The Dragonfly Ripples, “Saya pernah pameran tunggal sebelumnya di tahun 2020 di Rumah Sanur dengan judul “The Audacity of Silent Brushes”
Kata Handy, bedanya adalah kalau pameran pertama hampir semua hampir seluruhnya menggunakan rice paper, “Kali ini di pameran kedua ada banyak kanvas dan akrilik, walau ada juga beberapa karya dari rice paper dan ada print.”
Kiprahnya di seni rupa membuat banyak kawannya di dunia kontraktor dan bisnis bertanya, apakah saya saya sudah berubah profesi menjadi artis, “Saya hanya ketawa saja. Saya jawab saya tetap art lover.” Ditambahkan Handy bila dia harus menyebut sebagai artis, di dunia artis itu sangat berat, banyak hal yang harus dipenuhi agar bisa disebut artis. “Namun bagi saya art itu adalah sifatnya universal jadi siapapun bisa mengekspresikan dirinya kalau bisa, bisa juga untuk menampilkan karyanya, why not? Bagi saya seni itu haruslah bisa menghibur. Dan saya akui di dunia seni ini saya mendapat suatu experience tersendiri.”
Jadi pada waktu berkarya menggambar itu, dirinya merasa menemukan banyak hal yang bisa membuatnya dalam situasi yang sulit dijelaskan, “Artinya bisa merupakan suatu pelepasan bagi saya karena saya sebagai seorang pengusaha saya berpikir bahwa sebenarnya art itu penting sebagai pengusaha untuk menemukan permata bagi humaniora. Sehingga sebagai pengusaha mungkin bisa lebih bisa mewongke atau yang mengorangkan orang. Jadi kita tidak semata-mata jadi pengusaha. Jadi saya menemukan banyak sekali kebahagiaan dalam suasana berkarya.”
Handy mengaku tidak mau masuk dalam wacana, “Apakah saya seniman atau bukan. Saya tidak mau masuk ke dalam kondisi tersebut. Karena di dunia ini banyak pelukis yang top, latar belakangnya dari non akademis seni”.
Berkarya kata Handy harus memberi suatu peningkatan tersendiri, baginya berkarya adalah hasil kejujuran. “Dan tidak terlalu memasalahkan bila orang nanya, Pak ini alirannya apa ya?” Kata Handy, sebaiknya dirinya tidak ditanya, aliran apa yang dia kerjakan, “Karena kebenaran itu ada pada karya itu sendiri.”
Karena itu Handy mengaku sangat senang bisa mengenal GM dan bersahabat selama 10 tahun ini, “Kita sama sama berkarya dengan latar belakang yang sama, tidak punya dasar akademis di bidang seni rupa. Mas Gun juga dia terkenal sebagai budayawan dan jurnalis top yang mampu untuk berkarya secara baik.”
Pameran Tunggal The Dragonfly’s Rippless di Sika Gallery, Ubud ini akan berlangsung hingga 25 Maret 2025.


www.infobalinews.id

